Dari Sebuah Catatan Untuk Berbagi Dan Mencoba Dalam Mengetahui Suatu Arti Dan Makna Yang Di Cari Di Info Dan Pengertian Para Ahli

Pengertian Hakikat, Asas Dan Prinsip Kurikulum

Hakikat, Asas Dan Prinsip Kurikulum
Pengertian Kurikulum I stilah kurikulum pada awal mulanya digunakan dalam dunia olah raga pada zaman yunani kuno. Kurikulum berasal dari curriculum dari kata currir artinya pelari dan curure artinya tempat berpacu. Jadi, kurikulum diartikan jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Dari makna yang terkandung dari kata tersebut, kurikulum secara sederhana dapat diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh, diselesaikan anak didik untuk memperoleh ijazah. 

Kata kurikulum berasal dari Bahasa Yunani, yaitu dari kata “currere” yang berarti jarak tempuh lari Dengan kata lain jarak yang ditempuh oleh seorang pelari dari mulai garis start sampai garis finish. Jadi secara singkat dapat sebagai sarana penghantar pada tujuan. Dan pada permulaannya istilah kurikulum sering digunakan dalam istilah olahraga. Namun pada tahun 1955 mulai digunakan dalam bidang pendidikan (Muhaimin, 2005:1). 

Pengertian kurikulum yang terdapat dalam kamus Webster, Curriculum is currently defined in the way: the course and class activities in wich children and youth engage; the total range of in class out of class exprencess sponsored by the school; and the total life experience the learner ( Muhammad Ali, 1992:5). 

Mengenai definisi tersebut, Ahmad Tafsir (2005:53) menjabarkan bahwa kurikulum dapat diartikan menjadi dua macam: 
  1. Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari siswa di sekolah atau perguruan tinggi untuk memperoleh ijazah tertentu; 
  2. Sejumlah mata pelajaran yang ditawarkan oleh suatu lembaga pendidikan atau jurusan. Kurikulum berasal dari kata curriculum yang berarti “rencana pelajaran” (John M. Echols, 2000:160). 
Sedangkan pengertian kurikulum atau dalam Bahasa Arab disebut manhaj menurut Muhammad Ali al-Khouly adalah seperangkat perencanaan untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan. Pandangan yang menyatakan kurikulum adalah rencana pelajaran disuatu sekolah yang sering dikenal sebagai pandangan lama atau tradisional. 

Dengan pandangan tersebut seolaholah belajar disekolah hanya sekedar membaca buku-buku teks yang sudah ditentukan sebagai sumber bahan pelajaran. Kurikulum menurut pandangan ini membagi kegiatan belajar kedalam kegiatan kurikulum (intra curricular). Kegiatan penyertaan kurikulum (cocurriculum) dan di luar kegiatan kurikulum (ekstrakurikuler). Sedangkan menurut pandangan baru atau modern, kurikulum tidak hanya sekedar rencana pelajaran. Kurikulum diartikan sebagai sesuatu yang nyata yang terjadi dalam proses pendidikan di sekolah, baik dalam kelas, diluar kelas, dalam pergaulam mereka, olahraga, pramuka dan sebagainya yang diorganisir oleh sekolah. 

Semua pengalaman tersebut menurut pandangan baru dianggap sebagai kurikulum (Mahmud & Tedi Priatna, 2005:135-137). Kurikulum dapat ditafsirkan bermacam-macam. Menurut Saylor (1981), yaitu 
  1. Perangkat bahan ajaran, 
  2. Rumusan hasil belajar yang dikehendaki, 
  3. Penyediaan kesempatan belajar, 
  4. Kewajiban peserta didik (Nanang Fatah, 1991:38). 
Berdasarkan pendapat tersebut terdapat dua aspek yang penting dan perlu dipahami pengelolaannya yaitu: 
  1. Isi kurikulum, 
  2. Proses kurikulum. 

Kurikulum adalah istilah yang telah diketahui oleh setiap orang, setiap orang yang pernah mendengar kata itu. Tapi mungkin hanya sedikit saja orang tahu bahwa kurikulum itu sangat penting posisinya dalam pendidikan. Kurikulum ialah program untuk mencapai tujuan. Sebagus apapun rumusan tujuan jika tidak dilengkapi dengan program yang tepat maka tujuan itu tidak akan tercapai. Kurikulum itu laksana jalan yang dilalui dalam menuju tujuan. Esensi kurikulum ialah program. Bahkan kurikulum ialah program. Kata ini memang terkenal dalam ilmu pendidikan. Program apa? Kurikulum ialah program dalam mencapai tujuan pendidikan. Pada umumnya isi kurikulum ialah nama-nama mata pelajaran beserta silabinya atau pokok bahasan. Tetapi sebenarnya kurikulum tidak harus berupa nama mata pelajaran. Ia dapat saja berupa nama kegiatan. Contoh nama mata pelajaran: Matematika, Biologi, Agama Islam. 

Contoh kegiatan: Mengelas kuningan, Memperbaiki mesin diesel, Bertanam singkong. Jika kurikulum itu berorientasi kompetensi maka anda akan menerimanya. Sekalipun isi kurikulum dapat bermacam-macam namun isi kurikulum tetap saja berupa program dalam mencapai tujuan pendidikan. Hal penting pertama yang harus diperhatikan ialah kurikulum itu ditentukan oleh tujuan pendidikan yang hendak dicapai (A. Tafsir, 2006:98-99). 

Sedangkan menurut Alice Meil sebagaimana dikutip oleh Haidar Putra Daulay (1946:34) dalam bukunya Changing the Curriculum a Social Process, kurikulum itu meliputi keadaan gedung, suasana sekolah, keinginan, keyakinan, pengetahuan dan sikap orang yang meladeni dan di ladeni sekolah, yakni anak didik, masyarakat, para pendidik, dan personalia Adapun esensi kurikulum terdapat perbedaan pendapat. Tapi perbedaan pendapat tersebut hanya pada kisaran jumlah. Namun dari segi esensi kurikulum tersebut sama. 

Salah satunya yang diungkapkan oleh Hilda Taba bahwa kurikulum meliputi empat aspek sebagai berikut :
  1. Tujuan; 
  2. Isi; 
  3. Pola belajar mengajar;
  4. Evaluasi (Ahmad Tafsir, 2006: 54).
Sedangkan secara istilah kurikulum mempunyai makna yang beragam. Khususnya secara redaksi para ahli agak berbeda dalam mengartikan kurikulum, namun dari segi makna tidak jauh berbeda. Di antaranya menurut Saylor, Alexander, and Lewis yang kemudian dikutip oleh Muhammad Ali (1992:2-3), mereka merumuskan bahwa kurikulum adalah: 
  1. Sebagai rencana tentang mata pelajaran atau bahan-bahan pelajaran. 
  2. Sebagai rencana tentang pengalaman belajar. 
  3. Sebagai rencana tentang tujuan pendidikan yang hendak dicapai. 
Arti kurikulum di atas tampaknya terlalu sempit jika dibandingkan dengan arti kurikulum menurut pandangan modern, yakni tidak sebatas sejumlah perlajaran yang dipelajari, melainkan semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah. Dengan kata lain kurukulum dalam pandangan modern adalah pengalaman belajar. Dari beberapa definisi kurikulum di atasdapat dikatakan bahwa setiap kurikulum jika disederhanakan di dalamnya ada yang namanya tujuan kurikulum, isi atau materi kurikulum, metode atau proses belajar mengajar dan ada evaluasi. 

Setiap kegiatan ilmiah memerlukan suatu perencanaan dan organisasi yang dilaksanakan sistematis dan struktural. Begitu juga dengan dunia pendidikan, diperlukan sistem, struktur dan program yang terencana untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Proses, pelaksanaan sampai penilaian dalam pendidikan lebih dikenal dengan istilah kurikulum pendidikan. Menurut Abdul Mujib (2006:122). memaknai kurikulum sebagai perangkat perencanaan dan media untuk menghantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan. 

Sedangkan Ramayulis (2006:150) mengutip Crow dan Crow mendefinisikan kurikulum sebagai rancangan pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu program untuk memperoleh legalitas dari suatu lembaga yaitu ijazah.

Ahmad Tafsir (2006:99) lebih jauh mengatakan pengertian kurikulum sebagai program dalam mencapai tujuan pendidikan. Lebih lanjut beliau mengatakan pada umumnya isi kurikulum adalah nama-nama pelajaran beserta silabinya atau pokok bahasan. Kurikulum juga mencakup nama-nama kegiatan (kegiatan ekstrakulikuler). Abuddin Nata (2005:175) mengatakan secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa Latin, curriculum yang bermakna bahan pelajaran. 

Sedangkan dalam bahasa Prancis courier yang bermakna berlari. Kata kurikulum kemudian diadopsi menjadi bahasa Indonesia dan menjadi istilah yang digunakan untuk menunjukan pada sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau untuk memperoleh ijazah. Kata ini juga dapat bermakna sejumlah mata pelajaran yang disiapkan berdasarkan rancangan yang sistematis dan koordinatif dalam rangkan mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan. Sedangkan Hasan Langgulung sebagaimana dikutip oleh Abudin Nata (2005:176) mengatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, oleh raga dan kesenian baik dalam sistem pendidikan formal atau sistem pendidikan informal. 

Berdasarkan pengertian di atas, kurikulum merupakan bagian dari satuan pendidikan yang terbentuk sistematis dan terstruktur dalam sistem pendidikan. Kurikulum berbentuk mata pelajaran atau kegiatan ekstrakurikuler yang sistematis, legalitas akademis dalam bentuk ijazah akan diberikan kepada peserta didik setelah ia menyelesaikan program akademis. Bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum pada saat ini cakupannya semakin luas. 

Kemajuan teknologi dan kebutuhan bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan menjadikan kurikulum pada saat ini semakin berkembang. Berdasarkan tuntutan perkembangan dan kemajuan jaman, para ahli menetapkan cakupan kurikulum meliputi empat bagian, 
Pertama, bagian-bagian yang berkaitan dengan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan. 

Kedua, bagian-bagian yang berisi tentang ilmu pengetahuan, informasi, data-data, aktivitas, pengalaman yang kemudian disusun menjadi bahan pelajaran yang kemudian dimasukan dalam bentuk silabus.

Ketiga, bagian yang berisi tentang metode atau cara penyampaian mata pelajaran. 

Keempat, bagian yang berisi metode, penilaian dan pengukuran atas hasil mata pelajaran tertentu. 

Dasar, Asas, dan Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam 
Dua orang penulis pendidikan Islam, Al-Syaibani (1979:523-532) dan Abdul Mujib (2006:125-131) menetapkan dasar pokok bagi kurikulum tersebut sebagai berikut:
1. Dasar Religi 
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasarkan agama. Sehingga dasar religi menjadi dasar utama. Dasar ini ditetapkan berdasarkan nilai-nilai Ilahi. Penetapan nilainilai tersebut didasarkan pada Islam sebagai agama wahyu yang diturunkan Tuhan untuk umat manusia. Nabi bersabda, «Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu dua perkara, yang jika .kamu berpegang teguh padanya, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yakni Kitabullah (al-Qur›an) dan Sunnah Nabi-Nya». (HR.Hakim). 

2. Dasar Falsafah 
Dasar filosofis menjadi penunjuk arah bagi tujuan pendidikan Islam. Sehingga kurikulum mengandung kebenaran sesuai dengan apa yang dikandung oleh pandangan hidup tersebut (Islam). Menurut Abdul Mujib (2006:126-128) dasar fiosofis ini membawa pada tiga dimensi, yaitu dimensi ontologis (objek atau sumber), dimensi epistemologis (cara), dan dimensi aksiologis (manfaat). 

Uraiannya sebagai berikut : 
1. Dimensi ontologis. 
Dimensi ini mengarahkan peserta didik untuk berhubungan langsung dengan objek yang dikaji. Baik yang berbentuk realitas fisik, ataupun realitas nonfisik (ghaib). 

2. Dimensi epistemologis. 
Epistemologis menyangkut bagaimana kurikulum dibentuk dan esensi atau konten kurikulum yang dapat mengarahkan cara memperoleh pengetahuan bagi siswa. Dan kurikulum dinilai valid apabila didasarkan pendekatan ilmiah. Jadi kurikulum harus bersifat universal, reflektif dan kritis sehingga dimensi ini berimplikasi pada rumusan kurikulum. 

3. Dimensi aksiologis. 
Manfaat (aksiologis) dari perumusan kurikulum Pendidikan Islam yang didasari dengan falsafah adalah untuk terciptanya tujuan ideal dari pandangan hidup manusia. Dalam hal ini Islam. Alhasil aksiologisnya didasarkan pula pada idealitas keberhasilan dalam Islam.

3. Dasar Psikologis 
Dasar psikologis kurikulum menurut pendidikan Islam memandang kondisi peserta didik berada pada dua posisi, yaitu sebagai anak yang hendak dibina dan sebagai pelajar yang hendak mengikuti proses pembelajaran. Dasar ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan perkembangan psikis peserta didik. 

4. Dasar Sosiologis 
Dasar ini berimplikasi pada kurikulum pendidikan supaya kurikulum yang dibentuk hendaknya dapat membantu pengembangan masyarakat. Terutama karena pendidikan berfungsi sebagai sarana transfer of culture (pelestarian kebudayaan), proses sosialisasi individu dan rekontruksi sosial 

5. Dasar Organisatoris 
Dasar ini menjadi acuan dalam bentuk penyajian bahan pelajaran. Dasar ini berpijak pada teori psikologi asosiasi yang menganggap keseluruhan sebagai kumpulan dari bagian-bagiannya. Dan juga berpijak pada teori psikologi Gestalt yang menganggap keseluruhan mempengaruhi oraganisasi kurikulum yang disusun secara sistematis tanpa adanya batas-batas antara berbagai mata pelajaran. Namun, kedua psikologi ini memiliki kekurangan dan kelebihan. 

Herman H. Horne memberikan dasar bagi penyusunan kurikulum dengan tiga macam yaitu : 
  1. Dasar Psikologis, yang digunakan untuk memenuhi dan mengetahui kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan anak didik (the ability and needs of children); 
  2. Dasar sosiologis, yang digunakan untuk mengetahui tuntutan yang syah dari masyarakat (the legitimate demands of society); 
  3. Dasar Filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadaan alam semesta tempat kita hidup (the kind of universe in which we live) (Abdul Mujib, 2006:124). 
Selain teoritis filosofis penyusunan kurikulum haruslah berdasarkan asas-asas dan orientasi tertentu. S. Nasution (1991:24) berpendapat mengenai asas-asas penyusunan kurikulum meliputi asas filosofis, sosiologi, organisatoris dan psikologis. Asas filosofis berperan sebagai penentu tujuan umum pendidikan. Sedangkan asas sosiologis berperan memberikan dasar untuk menentukan materi pelajaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Asas organisatoris berfungsi memberikan dasar-dasar dalam bentuk pelajaran yang akan disusun, yang terakhir asas psikologis berperan memberikan berbagai prinsip-prinsip tentang perkembangan anak didik dalam berbagai aspeknya, serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dicerna oleh anak didik sesuai dengan tahap perkembangan.

 Dalam penyusunan kurikulum, terdapat prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam kurikulum pendidikan Islam. Menurut Ramayulis (2006:161-162) Tiga belas prinsipprinsip kurikulum pendidikan Islam adalah sebagai berikut: 
  1. Prinsip kurikulum pendidikan Islam berasaskan ajaran dan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, setiap yang berkaitan dengan kurikulum, termasuk falsafah, tujuan dan kandungan, metode, sistem dan lembaga pendidikan berdasarkan pada asas Islam. 
  2. Prinsip mengarahkan kepada tujuan dan aktivitas dalam kurikulum di arahkan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. 
  3. Prinsip integritas antara mata pelajaran, pengalaman-pengalaman dan aktivitas yang terkandung dalam kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat 
  4. Prinsip relevansi adalah adanya kesesuain pendidikan dengan lingkungan hidup murid, sesuai dengan kebutuhan jaman dan penyesuaian dengan lapangan pekerjaan yang dibutuhkan 
  5. Prinsip fleksibilitas adalah tempat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dalam kebebasan bertindak yang berorientasi pada program pendidikan maupun dalam mengembangkan program pengajaran 
  6. Prinsip integritas adalah kurikulum yang dapat menghasilkan manusia seutuhnya, manusia yang dapat menggabungkan kemampuan dzikir dan pikir dan manusia yang dapat menyelaraskan struktur kehidupan dunia dan akhirat. 
  7. Prinsip efisiensi adalah kurikulum yang dapat memanfaatkan dan waktu, tenaga, dana, dan sumber lain secara cermat dan tepat, memadai dan dapat memenuhi harapan. 
  8. Prinsip kontinuitas dan kemitraan adalah bagaimana susunan kurikulum yang terdiri dari bagian yang berkelanjutan dengan kaitan-kaitan kurikulum lainnya, baik secara vertical maupun secara horizontal. 
  9. Prinsip individualitas adalah bagaimana kurikulum memperhatikan perbedaan pembawaan dan lingkungan anak pada umumnya yang meliputi seluruh aspek pribadi anak didik, seperti perbedaan jasmani, watak inteligensi, bakat serta kelebihan dan kekurangan. 
  10. Prinsip kesamaan memperoleh kesempatan dan kebebasan dalam memberdayakan semua peserta didik dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap sangat diutamakan 
  11. Prinsip kedinamisan adalah kurikulum itu tidak statis tetapi dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial 
  12. Prinsip keseimbangan, adalah bagaimana kurikulum dapat mengembangkan sikap potensi peserta didik secara harmoni.
  13. Prinsip efektivitas adalah agar kurikulum dapat menunjang efektivitas guru mengajar dan peserta didik belajar.
Berikut adalah prinsip-prinsip pendidikan Islam sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir (2006:131-133): 
  1. Prinsip yang berorientasi pada tujuan. Prinsip ini mengindikasikan bahwa persiapan penyelenggaraan pendidikan hendaknya memiliki tujuan yang jelas. Terutama harus senantiasa sesuai dengan tugas manusia sebagai abid (hamba Allah) dan khalifah (pemimpin dan pengelola bumi); 
  2. Prinsip relevansi. Implikasi dari prinsip ini adalah adanya kesesuaian antara kualitas pendidikan dengan tuntutan vertical (hablumminallah) dan tuntutan horizontal (hablum minannas); 
  3. Prinsip fleksibilitas program. Fleksibilitas kurikulum diutamakan dalam pendidikan Islam supaya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi kurikulum itu akan diterapkan. Prinsip ini sesuai dengan prinsip penerapan syari›at bahwa ‹Berubahnya suatu hukum sesuai dengan perubahan tempat, waktu, pribadi dan motif; 
  4. Prinsip integritas. Prinsip ini diterapkan pada dua hal. Pertama, pada peserta didik. Dalam hal ini peserta didik yang dibina diarahkan supaya menjadi pribadi yang memiliki integritas antara fakultas dzikir dan fakir. Sedangkan penerapannya dalam bahan ajar yang hendak dituangkan dalam kurikulum harus mencakup dua wilayah keilmuan, yaitu ayat-ayat qauli (teks agama) dan ayat-ayat kauni (alam). Karena pada dasarnya keduanya berasal dari dzat Yang Maha Esa; 
  5. Prinsip kontinuitas. Kurikulum hendaknya memiliki kesinambungan antara satu jenjang dengan jenjang berikutnya. Sehingga dapat merangsang perkembangan intelektual peserta didik supaya berkeinginan meningkatkan kemampuannya; 
  6. Prinsip sinkronisme. Kurikulum yang dibentuk diarahkan untuk berkesesuaian. Sehingga suatu kegiatan pengajaran atau materi yang hendak diajarkan tidak menghambat kegiatan atau materi lainnya; 
  7. Prinsip objektivitas. Kurikulum yang dirancang harus didasarkan pada objektivitas sebagai tuntutan ilmiah dan mengesampingkan apek emosi dan irasional; 
  8. Prinsip demokratis. Perancangan kurikulum diupayakan melalui proses musyawarah mufakat; 
  9. Prinsip analisis kegiatan. Dalam menganalisis kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan dikonstruksikan melalui proses analisis bahan mata pelajaran serta tingkah laku yang sesuai dengan mata pelajaran;
  10. Prinsip individualisasi. Implikasi dari prinsip ini, kurikulum yang dirancang melihat individu yang plural (beragam). Berasal dari keluarga dan lingkungan yang berbedabeda; 
  11. Prinsip pendidikan seumur hidup. 

Kurikulum yang dirancang hendaknya mampu menanamkan pada diri peserta didik bahwa pendidikan adalah kebutuhan sepanjang masa. Sehingga dengan penanaman tersebut akan terwujud masyarakat belajar yang memegang prinsip life long education. Kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan yang sangat berperan dalam megantarkan pada tujuan pendidikan yang diharapkan, harus mempunyai dasar-dasar yang merupakan kekuatan utama yang mempengaruhi dan membentuk materi kurikulum, susunan dan organisasi kurikulum. 

Pada prinsipnya pengembangan kurikulum sesuai dengan Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36. 
  1. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. 
  2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan potensi daerah dan peserta didik. 
  3. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan, peningkatan iman dan taqwa, akhlak, potensi kecerdasan, keragaman potensi daerah dan lingkungan, tuntunan pembangunan, tuntunan dunia kerja, perkembangan ilmu pengetahuan, dinamika perkembangan global dan persatuan nasional serta nilai-nilai kebangsaan. 
  4. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. 
  5. Beragam dan terpadu. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni 
  6. Relevan dengan kebutuhan hidup 
  7. Menyeluruh dan berkesinambungan 
  8. Belajar sepanjang hayat 
  9. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah (Jaali, 2006:36-37) 

Tujuan pendidikan secara umum menghasilkan manusia yang sempurna dalam ilmu dan akhlak, ini akan menjadikan keilmuannya untuk kemajuan umat dalam membangun peradaban yang berakhaluk karimah. 

Untuk mencapai tujuan tersebut menurut Ali Ashraf (1996:39-41) haruslah sejalan dengan prinsip kurikulum pendidikan Islam sebagai berikut: 
  1. Prinsip pengembangan keagamaan dalam semua aspek dan cabang ilmu pengetahuan 
  2. Prinsip penekanan ajaran agama terutama akhlak kepada peserta didik dan mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Prinsip berkesinambungan dan integrasi yaitu dengan mengklasifi-kasikan kurikulum pendidikan demi perkembangan psikologi peserta didik. 

Selain memiliki prinsip dan ciri-ciri sebagaimana di sebutkan di atas, kurikulum pendidikan Islam menurut Abuddin Nata (2006:180-181) yang mengutip al-Syaibani menyebutkan tujuh prinsip kurikulum pendidikan Islam adalah sebagai berikut: 
  1. Perinsip pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajaran dan nilai-nilainya. Setiap bagian yang terdapat dalam kurikulum, mulai dari tujuan, kandungan, metode mengajar, cara-cara perlakuan haruslah berasaskan ajaran Islam. 
  2. Prinsip menyeluruh (universal) pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum, yakni mencakup tujuan pembinaan akidah, akal, dan jasmaniah serta yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam perkembangan spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, politik termasuk ilmu agama, bahasa, kemanusian, fisik, praktis, professional, seni rupa dan sebagainya. 
  3. Prinsip keseimbangan yang relatif antara tujuan-tujuan dan kandungan kurikulum. 
  4. Prinsip keterikatan antara bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan peserta didik. 
  5. Prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individu di antara peserta didik, baik dari aspek minat dan bakat.
  6. Prinsip menerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan jaman dan tempat. 
  7. Prinsip keterikatan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktivitas yang terkandung dalam kurikulum. 

Dasar perkembangan kurikulum yang berorientasi kepada rekonstruksi sosial berpandangan bahwa kurikulum sebagai alat untuk mempengaruhi perubahan sosial dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi kehidupan masyarakat. Sedangkan bagi mereka yang berorientasi teknologis berpandangan bahwa kurikulum sebagai proses teknologi untuk mewujudkan tujuan yang dikehendaki oleh pembuat kebijaksanaan. 

Lain halnya dengan mereka yang berorientasi akademik berpandangan bahwa kurikulum sebagai perkembangan dan peningkatan intelektual dengan cara memperkenalkan para peserta didik berbagai materi pelajaran yang tersusun dan terorganisir dengan baik. Teori kurikulum pada umumnya diajarkan untuk menguraikan, untuk menjelaskan dan untuk meramalkan. Kurikulum tersebut dapat ditingkatkan melalui proses evaluasi. Pengembangan kurikulum harus dikembangkan melalui suatu siklus sehingga diharapkan mutu dan fungsi kurikulum untuk mengamati hasil dapat dimonitoring secara berhati-hati. 

Teori-teori kurikulum dapat dikemukakan sebagi berikut: 
1. Teori berorientasi struktur; menguraikan dan menjelaskan bagaimana komponen kurikulum saling berhubungan dalam suatu lingkungan tingkat pendidikan, hal yang diuji dari teori berorientasi struktur adalah konsep penting dari bidang kurikulum, dan tingkatan pengambilan keputusan kurikulum, beberapa komponen yang dianalisa dalam kurikulum, serta prinsip yang nampak untuk memilih isi, organisasi, dan unsurunsur dalam kurikulum. 

2. Teori berorientasi menghargai; terutama mencoba untuk membuat peka pendidik kepada nilai-nilai yang dikeluarkan tidak riil / penuh kepalsuan, untuk menguji teori berorientasi menghargai hal yang harus diperhatikan yaitu sifat alami seperti apa yang sungguhsungguh membebaskan individu dan cara pendidikan yang diterima disekolah untuk menghalangi pembebasan individu tersebut, kemudian bagaimana cara sekolah dengan sadar maupun tidak disadari membentuk generasi muda yang berkait dengan peran bermasyarakat yang ditentukan oleh kelas, apa yang ditentukan oleh para pemimpin kurikulum dan bagaimana cara memutuskannya. Teori berorientasi menghargai memusatkan pada sosial political dalam lingkungan pergaulan untuk memilih dan menguji isu-isu yang berkembang dengan beberapa metodologi pemeriksaan seperti psikoanalisa, pemeriksaan filosofis, analisa historis, dan teori politis. 

3. Teori berorientasi isi yaitu terkait dengan menetapkan sumber utama yang perlu mempengaruhi organisasi dan pemilihan dari kurikulum. Sehingga sumber yang mendominasi teori kurikulum yang berorientasi pada isi ini adalah teori Child-Centered, teori knowledge-centered, teori society-centered. Teori child-centered menjadi permulaan, penentu, dan pembentuk dari kurikulum. Anak memperoleh pengetahuan pokok, anak dikembangkan dan dipengaruhi oleh suatu lingkungan sosial. Perkembangan pendidikan pengetahuan yang mengacu pada teori kurikulum yang menekankan pengembangan teori dan sosial dari anak. Anak menyajikan tingkatan pengembangan yang telah diperkirakan, kemudian belajar isi dan aktivitas yang terpilih akan menghadapi suatu tantangan bagi siswa untuk mengadakan suatu perkembangan. Dalam suatu pengembangan kurikulum, guru sebagai seseorang yang menyesuaikan kurikulum, guru belajar untuk memperbaharui isi dan disesuaikan oleh kebutuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik. Kurikulum society-centered menyatakan bahwa pesanan sosial maupun interaksi sosial harus merupakan penentu utama dalam kurikulum. Teori knowledge centered harus mengacu pada pengetahuan dan kemampuan dari peserta didik dalam pembelajaran. 

4. Teori berorientasi proses adalah menyangkut proses perencanaan kurikulum yaitu dengan menguraikan, mengembangkan menyesuaikan dengan situasi. Dalam pengembangan kurikulum harus mengorganisir pengetahuan untuk menilai implikasi kebijakan dalam memlih strategi ini. Untuk menguji kurikulum yang berorientasi proses harus menggunakan alat-alat yang sistematis, yaitu sistem dan analitis yang meliputi semua unsur-unsur penting, proses kurikulum diterapkan dan direkomendasikan, menekankan analisa dan uraian, menyimpulkan dari apa yang diinginkan. Pemecahan masalah proses dalam kurikulum dapat direkomendasikan, yaitu: teknologi, masuk akal, intuitif, dan negosiasi. Suatu pendekatan kurikulum digunakan dalam suatu proses untuk memperkirakan kebutuhan dalam kurikulum, melakukan suatu analisis tugas untuk mengidentifikasi hasil belajar. Menetapkan aktivitas interview, dan mengidentifikasi prosedur evaluasi. 

Ruang lingkup dalam kurikulum berorientasi pada proses ini halhal yang diperhatikan adalah: para guru, murid, pengurus, dewan sekolah dapat meningkatkan professional masing-masing, keikutsertaan dalam struktur (berpartisipasi dalam berbagai bidang), membentuk integritas dan etos organisatoris (mengenai kebutuhan siswa, guru, nilai-nilai, pengetahuan, gaya mengajar), mempertimbangkan hasil belajar, memperhatikan alat-alat evaluasi, jenis desain, kemajuan linier, pendekatan problem-solving, rekomendasi untuk mengevaluasi produk seperti penilaian sumatif dan perkembangan yang lain, serta kepekaan politis (Nana Syaodih, 1997:47). Dalam konteks Indonesia, R. Bangbang Soekisno (2007: 2-7) mengatakan bahwa kurikulum Indonesia telah mengalami perkembangan sebagai berikut : 
1. Kurikulum 1968 dan sebelumnya Awalnya pada tahun 1947, kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. 

Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. 

Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani. Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. 

Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat. 

2. Kurikulum 1975 Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan pendekatanpendekatan di antaranya sebagai berikut: 
  1. Berorientasi pada tujuan. 
  2. Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif. 
  3. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. 
  4. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. 
  5. Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill). 

Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratkan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Karena itulah pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 oleh kurikulum 1984. 

3. Kurikulum 1984 Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya adalah sebagai berikut: 
  1. Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 
  2. Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik 
  3. Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah 
  4. Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang. 
  5. Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah. 
  6. Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja. 

4. Kurikulum 1994 Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut: 
  1. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan. 
  2. Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi). 
  3. Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar. 
  4. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban), dan penyelidikan. 
  5. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah. 
  6. Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek. 
  7. Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.
5. Kurikulum Berbasis Kompetensi (Versi Tahun 2002 dan 2004) Dasar pemikiran untuk menggunakan konsep kompetensi dalam kurikulum adalah sebagai berikut. 
  1. Kompetensi berkenaan dengan kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks. 
  2. Kompetensi menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui siswa untuk menjadi kompeten. 
  3. Kompeten merupakan hasil belajar (learning outcomes) yang menjelaskan hal-hal yang dilakukan siswa setelah melalui proses pembelajaran. 
  4. Kehandalan kemampuan siswa melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur. 
Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu: 
  1. Pemilihan kompetensi yang sesuai; 
  2. Spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi; 
  3. Pengembangan sistem pembelajaran. 

Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 
  1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal; 
  2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman; 
  3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi;. 4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif; 
  4. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. 
  5. Kurikulum Berbasis Kompetensi – Versi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) 

Secara substansial, pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. 

Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter), yaitu: 
  1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.; 
  2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman;
  3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi;. 
  4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif;. 
  5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. 

Perkembangan dan ciri masing-masing kurikulum tersebut merupakan bagian penting dalam memahami perkembangan kurikulum. Hal ini penting agar desain kurikulum yang akan dikembangkan dapat berfungsi dengan baik.

Adapun fungsi dari kurikulum menurut Pendidikan Islam adalah sebagai: 
  1. Alat untuk mencapai tujuan dan untuk menempuh harapan manusia yang dicita-citakan; 
  2. Pedoman dan program harus dilakukan oleh subjek dan objek pendidikan; 
  3. Fungsi kesinambungan untuk persiapan pada jenjang sekolah berikutnya dan penyiapan tenaga kerja bagi yang tidak melanjutkan; 
  4. Standar dalam penilaian criteria keberhasilan suatu proses pendidikan (Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, 2006:134). 

Untuk dapat memahami konsep dengan lebih baik, maka berikut Anda diminta untuk mendiskusikan atau menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini: 
  1. Apa perbedaan kurikulum dalam pengertian tradisional dan kurikulum dalam pandangan modern ? 
  2. Pendapat tentang kurikulum terdapat beberapa pendapat. Sebutkan empat aspek kurikulum menurut Hida Taba ! 
  3. Sebutkan prinsip-prinsip penyusunan kurikulum menurut Ramayulis ! 
  4. Menurut al- Syaibani terdapat empat dasar pokok kurikulum, jelaskan ! 
  5. Kemukakan ciri kurikulum berbasis kompetensi (KBK) versi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ! 
Selanjutnya coba Anda cocokkan hasil diskusi dan jawaban Anda dengan kunci jawaban di bawah ini ! 1) Kurikulum secara tradisional adalah sejumlah mata pelajaran yang disajikan dan dipelajari di sekolah. Sedangkan secara modern kurikulum adalah situasi yang nyata yang terjadi dalam proses pembelajaran baik di dalam ataupun di luar kelas. 

2) a. Tujuan 
b. Isi 
c. Pola belajar mengajar 
d. Evaluasi 

3) a. Berasaskan Islam 
b. Mencapai tujuan yang telah ditetapkan 
c. Integritas antarmata pelajaran 
d. relevansi 
e. Fleksibilitas 
f. Kontinuitas 
g. Individualitas h. Kesamaan kesempatan 

4) a. Religi 
b. Falsafah 
c. Psikologi 
d. sosial 

5) a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal b. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman 
c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi;. 
d. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif;. 
e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Pengertian Hakikat, Asas Dan Prinsip Kurikulum

0 komentar:

Poskan Komentar