Dari Sebuah Catatan Untuk Berbagi Dan Mencoba Dalam Mengetahui Suatu Arti Dan Makna Yang Di Cari Di Info Dan Pengertian Para Ahli

Seni Rupa Pascaimpresionisme

Seni Rupa Pascaimpresionisme 
Seperti telah diuraikan di muka, seni Impresionisme memiliki ciri-ciri seni modern, yaitu : 
1) Karya seni yang tidak mengikatkan pada tradisi seni yang lampau atau yang berlaku; 
2) Karya seni yang didukung oleh kebebasan berekspresi meskipun berdasarkan konsep impresionistis; 
3) Cita rasa seni yang tidak mengikatkan kepada bentuk yang ada di alam; 
4) Karya seni yang didukung oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Perkembangan akhir seni rupa Impresionisme ditandai oleh kecenderungan para seniman dalam mengekspresikan gagasannya secara individual. Keregangan atau bahkan keingkaran terhadap tradisi seni masa lalu semakin ditajamkan. Hal ini merupakan kelanjutan dari rasa kebebasan dan otonomi dalam melahirkan berbagai ide seni dengan teknik dan konsep estetik yang mandiri. Tradisi seni klasik yang terikat pada bentuk yang ada di alam diubah dengan pengolahan bentuk alam. 

Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi pada penciptaan seni tampak memberikan napas baru pada kekaryaan seni pascaimpresionisme. 

Ciri-ciri seni modern ini akan nampak pada perkembangan seni Impresionisme akhir (dan dinamakan pula Post Impresionisme atau Pascaimpresionisme). Pada masa ini terkenal tiga tokoh seniman yang merintis perkembangan baru dalam seni rupa modern di Eropa. Bahkan mereka ini yang membuka pintu ke arah gerakan seni abad keduapuluh. Ketiga orang tokoh tersebut adalah Paul Cezanne, Vincent van Gogh, dan Paul Gauguin, yang melihat kebenaran alam tidak sama dengan kebenaran seni. 

Para seniman Post Impresionisme memperlihatkan tanda-tanda yang berbeda dari para seniman Impresionisme yang lain. Mereka melihat kebenaran yang ada di alam tidak sama dengan kebenaran seni. Seni bukanlah tiruan alam. Berkarya seni bukanlah meniru alam secara visual-realistis, tetapi mengubah alam menjadi karya seni. Pada umumnya seniman Post Impresionisme merasa jenuh dengan cara berpikir Impresionisme yang terlampau rasional tentang realitas warna. Maka untuk mengungkapkan ketidakpuasannya itu mereka mencoba memberikan bobot seni ini dengan tekanan yang berlainan. Cezanne menekankan pada bentuk; van Gogh pada ekspresi, sedangkan Gauguin pada nilai-nilai perlambangan. Ketiga tokoh seniman ini berangkat merintis jalan sendiri-sendiri sekalipun berdasar pada aliran Impresionisme yang sama. 

Paul Cezanne 
Paul Cezanne (1839-1906) ialah seorang pelukis kelahiran Perancis Selatan (di Aix-en-Provence) yang belajar melukis dari Courbet dan Manet. Pada tahun 1861 Cezanne belajar ke Paris yang terkenal sebagai pusat seni dunia. Ia tekun mengkaji dan mempelajari teknik dan estetika seni lukis Eropa yang dijumpainya di Museum Louvre. Teknik melukis Impresionistik dipelajarinya dari Camille Pissarro. Pada tahun 1879 ia kembali lagi ke Aix-en-Provence tempat kelahirannya. Kegiatan melukisnya dilakukan di tempat kelahirannya itu dengan tenang. Kebiasaan melukis di tempat yang jauh dari kerumunan orang, dan dengan semangat yang tinggi, ia mampu berkarya seni lukis yang gemilang. 

Cezanne termasuk seniman yang mempelopori seni rupa modern Barat (Eropa). Ia memandang dunia secara objektif. Ia ingin memandang dunia sebagai obyek apa adanya, tanpa intervensi pikiran dan emosi. Ia memandang cara kerja kaum Impresionis yang terlalu subjektif, yaitu melihat apa yang diterima oleh matanya karena pemantulan sinar. Cezanne melihat gejala tanpa bentuk (amorf) pada impresionisme. Untuk itu ia mencoba mendalami obyek tidak sekedar berhenti di permukaan saja. Dia berkata, Saya tidak ingin memreprodusir alam, tapi saya mencipta kembali alam.” 

Hal ini berarti bahwa Cezanne ingin mengubah dan memperbaiki objek sesuai dengan dasar ingin memperoleh bentuk yang kuat. Segala bentuk baginya bersumber pada bentuk geometris (dapat dikembalikan pada bentuk ilmu ukur) seperti kubus, selinder, limas, bola dan lain-lain). Untuk itu ia perlu membuat deformasi dari bentuk objek. Pandangan-pandangan dalam seni lukis yang dapat dipetik dari Cezanne tampak pada pernyataan-pernyataannya, "Aku ingin bertindak seperti Poussin lagi, dengan model dari alam, dan "Aku ingin menjadikan impresionisme sesuatu yang pejal dan tahan lama sebagai layaknya seni-seni yang ada di Museum (Soedarso Sp, 2000:71-72). Jika Poussin berkonstruksi kuat dalam lukisannya dengan menyusun unsur-unsur yang terpilihnya dari alam, maka Cezanne memperbaiki alam dengan kekuatan bentuk baru yang tahan lama. 

Karyanya yang terkenal adalah Rumah Orang Hukuman, Pemandangan dari Gardanne, Mont Sainte-Victorie, The Great Bathers. 

Vincent van Gogh 
Vincent van Gogh (1853-1890) adalah seorang pelukis Post Impresionisme yang berkemampuan menampilkan pernyataan objek yang paling hakiki menyatu dengan perasaannya. Karya-karya van Gogh ialah pencerminan dari hidup yang penuh penderitaan, emosi yang meluap, kegagalan hidup. Bagi Van Gogh, realitas dan emosi dipersatukan. Objek adalah alamiah dan batiniah. Beberapa karyanya yang terkenal yaitu Bunga-bunga Matahari, Pemandangan dengan Pohon Jaitun, Jalan dengan Cypress, dan Malam Penuh Bintang. Lukisan-lukisan Van Gogh mencerminkan kekayaan pernyataan batin yang sangat objektif, sebagai suatu pemuasan diri (self enjoyment). Gaya dan paham Van Gogh ini kemudian dikatakan sebagai pendekatan dalam gaya Ekspresionisme. Paham dan gaya Ekspresionisme ini berkembang pula di Perancis dan Jerman. 

Goresan pendek-pendek van Gogh dikembangkan dari teknik melukis impresionistik dan pointilisme Seurat, dengan warna-warna cemerlang. Garis-garis pendek ini kemudian berubah membentuk gelombang yang melengkung dan melilit-lilit penuh irama. Lekukan yang ritmis dan seakan-akan bermelodi itu berisi luapan emosi yang bergejolak. Perasaan objektifnya tergambarkan penuh memenuhi bidang lukis dengan kekuatan garis, dan warna yang ekspresif. 

Kekaryaan van Gogh pada dasarnya adalah perjuangan hidupnya yang gigih dan penuh penderitaan. Di samping perjuangannya sendiri, ia juga didukung oleh adiknya sendiri, Theo. Adiknya membantu kebutuhan melukisnya, dan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Hasil penjualan lukisan van Gogh pada waktu itu tidak menguntungkan, karena di samping karyanya itu belum dikenal dan dipahami orang. Selam hidupnya, karya yang terjual murah ialah Kebun Anggur Merah. 

Tapi sekarang lukisan van Gogh sudah sangat tinggi, atau mungkin tergolong lukisan yang tertinggi harganya, misalnya lukisan Bunga Matahari (US $ 39,9:April 1987). Memang van Gogh tidak dapat menikmati hasil jerih payahnya itu, tapi adiknyalah yang dapat merasakan perjuangannya. 

Paul Gauguin 
Paul Gauguin (1848-1903) ialah seorang pelukis yang senang menggunakan warna-warna cemerlang (bandingkan dengan Impresionisme), bentuk tokoh-tokoh disederhanakan menjadi garis-garis esensial dan berusaha menghindari pembentukan plastisitas dengan bayang-bayang. Kebiasaan ini membuat lukisannya menjadi dekoratif. Jiwa eksotisnya selalu ingin mencari yang lain dari yang lain sehingga ia meninggalkan kebudayaan Eropa dan pergi ke lautan teduh. Gauguin selanjutnya berperan dalam aliran Simbolisme atau terkenal dengan Nabisme untuk generasi berikutnya seperti pada pelukis Bonnard Vuillard dan Dennis.

Beberapa karya Gauguin yang terkenal yaitu Potret seorang wanita, dewi Maria, Yesus Disalib, dll. 
Jiwa berpetualang Gauguin dilakukannya di tempat yang jauh dari Eropa (Paris, Perancis). Ia pergi ke hutan di sebuah pulau di Lautan Teduh. Dalam ketenangan alam Tahiti yang indah ia seakan-akan terbenam dalam keasingan dan keasyikan tradisi yang baru. Lukisannya yang menampilkan dunia primitif dan eksotik itu memberikan kepuasaan tersendiri. Lukisan yang bertemakan lautan Teduh di antaranya Hina Te Fatau, dan Manau Tupapau. 

Kepeloporan ketiga tokoh seniman tersebut dapat kita amati jejak dan pengaruhnya pada banyak seniman dalam perkembangan gaya dan paham selanjutnya (seni rupa abad keduapuluh). Pembahasan senirupa modern di Barat (khususnya Eropa) dapat dimulai dari Fauvisme hingga Seni Konseptual (Conceptual Art). 

Fauvisme 
Fauvisme merupakan aliran dan gaya seni yang berkembang di Perancis pada akhir abad ke-19. Aliran seni rupa (lukis) ini merambah pula sampai ke beberapa tempat di Eropa, dengan landasan kekaryaan berpegang pada konsep ekspresionisme yang telah dipelopori van Gogh.

Konsep Seni Fauvisme 
Fauvisme berasal dari kata „les fauves‟ (bahasa Perancis), artinya binatang jalang, binatang buas atau ‗the wild beasts‟. Istilah ini pertama kali dikemukakan oleh kritikus Perancis Louis Vauxelles terhadap para pelukis yang menggunakan warna-warna yang barbar (tegas dan berani) dan deformasi dari obyek lukisan pada pameran salon d‟Automne tahun 1905. 

Aliran Fauvisme berangkat dari usaha menyempurnakan aliran Impresionisme, suatu peningkatan gaya Paul Gauguin yang dekoratif dan gaya ekspresionisme dari van Gogh. Meskipun aliran Fauvisme tidak memperlihatkan teknik yang sama dan konsisten, tetapi selalu mengandung ciri-ciri yang sama yaitu kekuatan warna, garis blabar yang putus-putus dan penampilan yang serba tidak teratur (disorganized appearance). Tanda-tanda aliran Fauvisme tampak kembali pada permulaan karya Matisse (1892). Kebebasan dan spontanitas dari tanggapan pribadi seniman dari aliran ini dapat disamakan dengan aliran ekspresionisme. 

Seniman Fauvisme 
Para pelukis yang dapat digolongkan ke dalam aliran Fauvisme adalah Rouault, Derain, Vlaminck, dan pelopor utamanya Matisse. Yang lain ialah Raoul Dufy, Koes van Dougen. 

Henry Matisse (1869-1954). Menurut Henry Matisse, Fauvisme adalah gerakan reaksi terhadap metodisme yang lamban dari neoImpresionisme Seurat dan Signac (divisionisme). Karya-karyanya yang awal bernada Impresionistis, kemudian pengaruh dari Cezanne dan Gauguin. Pengaruh Cezanne tampak dalam mengungkapkan struktur yang kuat yang ditimbulkan oleh hubungan warna-warna tertentu. Sebagai seorang colorist besar, Matisse banyak terpengaruh oleh pelukis Gauguin dalam menggunakan warna-warna yang bebas dan warna-warna yang murni. 

Georges Rouault (1871-1958). Kebebasan pelukis Rouault lebih merupakan keliaran yyang membuat lukisannya lebih bersifat Ekspresionisme. Karya seninya tidak memecahkan suatu peoblem, melainkan melontarkan problem dan isinya banyak merupakan propaganda agama.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Seni Rupa Pascaimpresionisme

0 komentar:

Poskan Komentar