Dari Sebuah Catatan Untuk Berbagi Dan Mencoba Dalam Mengetahui Suatu Arti Dan Makna Yang Di Cari Di Info Dan Pengertian Para Ahli

Teori Korelasi Dalam Kebenaran Sejarah

Teori Korelasi Dalam Kebenaran Sejarah 
C.Behan Mc.Cullagh sebagian besar menerima kritik yang dilontarkan postmodernisme kepada pendekatan empiris-naratif dalam ilmu sejarah . Dalam hal ini ia menyalahkan "correspondence theory of truth" dalam pendekatan sejarah empiris itu, seolah-olah empiris dalam suatu peristiwa, seperti biografi atau struktur sosial, mengacu pada kebenaran yang obyektif (realitas). McCullagh menggantikan teori korespondensi yang dipakai dalam ilmu eksatta diganti dengan teori korelasi ("correlation theory of truth") dalam ilmu sejarah. Teori korespondensi berpendapat bahwa apa yang diungkapkan dalam historiografi empiris itu sama benar dengan kenyataan, sedangkan teori korelasi lebih hati-hati dan mengatakan bahwa apa yang diungkapkan dalam histioriografl empiris itu tidak sama benar dengan kenyataan, tetapi ada kaitannya dengan kenyataan (korelasi).

Berdasarkan teori korelasi kebenaran sejarah itu, Mc.Cullan membantah pandangan dalam doktrin postmodernisme, dan mencoba membuktikan melalui penelitian historiografis, bahwa para ahli sejarah, khususnya yang menggunakan pendekatan naratifisme, dapat mengungkapkan kebenaran (realitas) berdasarkan sumber sejarah (dokumen, arsip, kesaksian lisan) karena memiliki cara-cara tertentu (metode sejarah) untuk menilai teks atau dokumen, dan cara-cara tertentu untuk menjelaskannya (diskripsi atau analisis). Bahkan cara yang digunakan ahli sejarah untuk membuat inferensi (inference) atau menarik kesimpulan dari dokumen bisa obyektif, karena pada dasarnya tindakan-tindakan manusia di masa lampau dialami juga oleh manusia masa kini.

McCullagh bisa menerima pendapat postmodernisme bahwa para ahli sejarah terikat pada kondisi budaya mereka. Namun hal itu tidak harus menghasilkan relativisme budaya dalam historiografi. Ahli sejarah selalu menjelaskan fakta sejarah melalui generalisasi yang bersifat diskriptif, interpretatif ataupun melalui teori-teori kausalitas tertentu. Generaliasi-generaliasi dan teori-teori itu senantiasa bisa diubah-ubah agar lebih mencerminkan realitas.

Dengan demikian metode sejarah dan historiografi bisa juga menjamin bahwa apa yang disampaikan melalui bahasa dalam bentuk naratif itu bukan sekedar "language game" tetapi memiliki kaitan (korelasi) dengan kenyataan. Kemampuan akademik para ahli sejarah itulah yang menjamin bahwa historiografi tidak terjerumus dalam relativisme budaya, dan tetap memiliki kadar realitas yang cukup tinggi.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Teori Korelasi Dalam Kebenaran Sejarah

0 komentar:

Poskan Komentar