Dari Sebuah Catatan Untuk Berbagi Dan Mencoba Dalam Mengetahui Suatu Arti Dan Makna Yang Di Cari Di Info Dan Pengertian Para Ahli

Pola Kepemimpinan Di Indonesia

Pola Kepemimpinan Di Indonesia 
Soekarno sebagai orang kuat
Pola kepemimpinan di Indonesia yang diawali dengan Soekarno yang menjadi presiden pertama kali pada waktu itu. Waktu itu Soekarno tidak mau dipanggil Soekarno, beliau lebih suka dipanggil dengan sebutan Bung Karno. Beliau berpikir hal tersebut akan lebih mendekatkan beliau dengan rakyat Indonesia. Pada waktu itu Soekarno menerapkan pola kepemimpinan dengan pendekatan kekuasaan (Baskara). Tapi hal itulah yang malah menyebabkan Presiden Soekarno jatuh dalam pola kepemimpinan yang bergaya orang kuat. Pada kenyataannya rakyat Indonesi tidak menyukai gaya kepemimpinan seperti itu karena hal itu membuat kekuasaan malah tidak terkontrol dan menjadi sewenang-wenang sehingga banyak terjadi penyelewengan. Tujuan yang diinginkan adalah memberdayakan masyarakat secara politis, sosial dan ekonomi sehingga menjadi masyarakat yang kuat. Hal tersebut akan membuat masyarakat tidak akan melakukan penyelewengan sehingga keadaan masyarakat bisa menjadi berjalan lancar dan rapi.


Bung Karno menyadari perlunya menggalang persatuan dan kerja sama di antara para pejuang. Hal itu akan memotivasi para pejuang agar bisa menghalang dan melawan apapun yang terjadi dalam kehidupan mereka seperti terjadinya pemberontakan. Kekuasaan yang telah diperoleh Bung Karno digunakan untuk membubarkan Konstituante serta memberlakukan kembali UUD 1945 (Baskara). Dengan hal itu maka Presiden Soekarno menjadi Presiden yang memiliki kekuasaan penuh dan menjadi Presiden Seumur Hidup. Hal itu sangat bertentangan dengan apa yang telah dicita-citakan Soekarno pada saat muda dahulu.


Soeharto dan politik orang kuat
Di saat Soeharto menggantikan Soekarno menjadi presiden, beliau juga secara tidak langsug juga menerapkan hal yang sama dengan waktu Soekarno menjabat presiden. Soeharto menempuh dengan cara membina hubungan khusus dengan Golkar ( Golongan Karya ). Hal itu dilakukan agar mereka mendukung Soeharto dan pemerintah Orba-nya agar bisa menjadikannya sebagai presiden yang berkuasa penuh dan beliau bisa menjadi presiden Indonesia dengan masa jabatan yang lama ( Baskara ). Kepemimpinan gaya orang kuat yang dipraktekan oleh Presiden Soekarno dan presiden Soeharto sama-sama menimbulkan dampak negatif yang luas di masyarakat. Pola kepemimpinan itulah yang menyebabkan terciptanya suatu sistem politik yang mampu menampung berbagai aspirasi yang berkembang dalam masyarakat dengan segala perbedaan yang ada. Padahal hal itulah yang menjadi hal terpenting sehingga tercipta masyarakat yang harmonis. Tapi gaya kepemimpinan Presiden Soeharto yang sudah terdidik sebagai militer maka hal atau suasana yang tercipta bahwa uang dan senjata digunakan sebagai alat untuk menjepit dan mempersempit ruang gerak masyarakat Indonesia. Sejak hal itu timbul maka banyak terjadi pemberontakan dan demo yang dilakukan oleh rakyat Indonesia.


Mereka menjadi tidak bisa bebas mengeluarkan pendapat dan aspirasi mereka untuk Bangsa Indonesia. Dengan cara kepemimpinan Soeharto yang bergaya militer maka rakyat dibuat secara tidak langsung bungkam dan tidak bisa bebas melakukan sesuatu untuk kemakmuran Bangsa Indonesia. Di dalam dunia pertelevisian dan stasiun radio juga tidak bisa bebas dalam ruang gerak mereka dalam hal mencari berita dan megutarakan hal tersebut dalam radio maupun televisi (Baskara). Hal itu terjadi selama Soeharto menjabat sebagai presiden Indonesia.Banyak masyrakat Indonesia yang menjadi sengsara dan miskin tapi walau presiden sudah melihat hal seperti itu tetap saja hal itu tidak merubah gaya kepemimpinan Presiden Soeharto. Lama-kelamaan masyarakat tidak bisa menerima hal tersebut maka terjadilah pemberontakan yang menginginkan Presiden Soeharto turun dari jabatannya sebagai presiden.Setelah melalui berbagai macam pemberontakan dan berbagai macam demo yang telah dilakukan masyrakat Indonesia maka Soeharto turun dari jabatannya sebagai presiden ( Baskara ). Setelah Soeharto maka yang memimpin Indonesia ini adalah Gus Dur. Gaya kepemimpinan Gus Dur pelan-pelan mengubah keadaan Bangsa Indonesia yang tadinya terkekang lama-kelamaan menjadi lebih renggang dan sedikit mengalami kebebasan dalam mengemukakan pendapat dan aspirasinya. Pada waktu itu keadaan pertelevisian dan dunia radio semua berubah pelan-pelan.Tapi mungkin dengan keadaan Gus Dur yang terbatas maka beliau juga di minta turun dari jabatannya sebagai presiden. Tapi dengan turunnya Gus Dur tidak mengubah keadaan yang sudah bisa bernafas lega dan bebas yang sudah diciptakan oleh waktu Gus Dur menjabat sebagai preiden.


Mungkin dengan keadaan dan kemapuan Gus Dur yang terbatas maka rakyat Indonesia merasa masih belum puas dengan gaya kepemimpinan Gus Dur. Setelah Gus Dur maka diadakan Pemilu yang tujuannya untuk memilih presiden yang benar-benar sesuai dengan masyarakat Indonesia dan benar-benar bisa mengutarakan dan melaksanakan aspirasi rakyat Indonesia. Setelah melalui pemilihan yang ketat maka terpilihlah Megawati sebagai presiden wanita yang pertama kalinya dalam sejarah Bangsa Indonesia.


Menuju masyarakat yang kuat
Pada tahun 1998-2004, Indonesia dipimpin oleh Megawati Soekarno Putri. Pada awal tahun 1998 sebelum ada pergolakan pada waktu rezim Soeharto nama Megawati sudah diperkuat dulu oleh nama ayahnya yaitu Bung Karno ( Neng Dara ). Pada tahun tersebut itu juga timbul pemberontakan yang menyebabkan banyak warga negara Indonesia yang meminta Soeharto turun dari keprisidenan. Maka untuk mengatasi hal tersebut diadakan pemilu yang bertujuan untuk memilih presiden kembali. Megawati Soekarno Putri yang sudah mempunyai nama besar tapi tidak lebih besar seperti nama besar ayahnya. Tapi hal itu juga yang membuat Megawati mendapatkan suara terbanyak sehingga dapat menjadi presiden. Dalam pemilu pada tahun 1998 Megawati terpilih sebagai presiden wanita yang pertama untuk jangka waktu 5 tahun mendatang. Mungkin karena nama besar ayahnya dulu maka nama Megawati juga secara tidak langsung juga ikut besar dan terkenal dan hal itu juga yang menuntut Megawati untuk bisa dan mampu menjalankan beban yang sudah dibebankan oleh masyarakat Indonesia.


Pada awal kepemimpinan Megawati banyak yang menyangsikan apakah bisa dan mampu Megawati menjalankan roda pemerintahan Indonesia. Hal itu timbul karena belum pernah ada wanita yang menjadi presiden di negara Indonesia ini ( Neng Dara ). Para pemuka agama juga ada yang mempunyai perasaan tersebut apalagi selama ini kedudukan wanita ada di bawah laki-laki yang artinya bahwa laki-lakilah yang bertugas untuk memimpin dan mengarahkan wanita ( Neng Dara ). Hal itu sudah terbentuk dari dahulu bahwa kedudukan wanita ada di bawah laki-laki. Maka dari hal itulah yang membuat ragu para pemuka agama dengan terpilihnya Megawati menjadi presiden (Neng Dara). Tapi di lain pihak Megawati bertekad untuk dapat membuktikan kemampuan untuk memimpin bangsa Indonesia ini. Tapi tidak dipungkiri bahwa kedudukan wanita ada di bawah, hal itu yang membuat Megawati mengambil resiko dengan menerima jabatan tersebut karena Megawati ingin membuktikan bahwa tidak selama-lamanya wanita ada di bawah. Dan memang ternyata hal itu terbukti, dengan selama Megawati menjabat sebagai presiden Republik Indonesia ada beberapa masalah yang terselesaikan dan juga harga barang-barang kebutuhan juga stabil dan masyarakat Indonesia yang tidak mengadakan pemberontakan selama Megawati memimpin Negara Indonesia.


Walau demikian masih saja yang dianggap masyarakat Indonesia yang kurang dengan gaya kepemimpinan Megawati sebagai presiden. Masyarakat Indonesia merasa bahwa hal itu masih kurang sehingga mereka meminta Megawati turun sebagai Presiden Indonesia yang kesekian kalinya. Meskipun secara umum dapat diamati bahwa gerakan perempuan di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan telah berhasil meningkatkan status perempuan dalam masyarakat dan dalam keluarga, di pihak lain perempuan tetap dihadapkan pada berbagai pandangan tentang perempuan yang masih seksis yang intinya bersumber pada anggapan bahwa manusia yang berjenis kelamin prempuan tidak setara dengan laki-laki tapi memang tidak dipungkiri pula bahwa gaya kepemimpinan seorang perempuan dan laki-laki sangat berbeda ( Siti Asiyah ). Kadang perempuan memimpin dengan lebih banyak memakai perasaan sedangka gaya kepemimpinan laki-laki lebih bisa tega dalam memutuskan sesuatu hal. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan Megawati diminta turun oleh masyarakat Indonesia turun sebagai presiden.


Pemerintahan SBY-YK
Maka pada tahun pertengahan 2004 diadakan Pemilu lagi untuk memilih presiden kembali untuk menggantikan kedudukan Megawati. Pada tahun itu juga Megawati juga mencalonkan diri sebagai presiden kembali tapi kali ini pesaing untuk menduduki bangku kepresidenan sangat ketat karena ada Bapak Susilo Bambang Yudoyono dan pasangannya Yusuf Kalla. Tapi karena masyarakat yang sudah lebih menyukai gaya kepemimpinan seorang laki-laki maka akhirnya terpilihlah pasangan SBY-Yusuf Kalla. Sekarang tinggal kita melihat sampai mana gaya kepemimpinan SBY-YK sampai dengan masa jabatannya apakah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat SBY juga lulusan dari kemiliteran tapi beliau bisa menempatkan diri sesuai dengan keadaan dan situasi yang sudah banyak terjadi demo dari rakyat Indonesia sebelum bekiau menjabat sebagai presiden. Apakah gaya kepemimpinan pasangan tersebut akan memuaskan masyarakat walau dengan menaikkan harga BBM naik dan barang-barang kebutuhan masyarakat juga naik walau hanya sedikit tapi hal itu sudah memberatkan masyarakat yang tadinya sudah dalam keadaan susah dan terpojok ( Adrianus ). 


Sekarang pemerintahan SBY-YK menerapkan sistem good governance dan hal itu sudah terbukti dengan penanganan bencana di Aceh ( Adrianus ). Sekarang tinggal kita lihat apakah good governance itu juga dapat menuntaskan kasus-kasus korupsi yang sudah melekat pada negara Indonesia ( Adrianus ).

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pola Kepemimpinan Di Indonesia

0 komentar:

Poskan Komentar